Cerita Pendek: Hujan di Ujung November
Cerita Pendek: Hujan di Ujung November
Hari itu Selasa, 18 November 2025. Seperti biasa, Ami membuka mata dengan rasa syukur yang pelan—meski hidungnya masih tersumbat karena pilek, tapi badan terasa cukup kuat untuk bangun, sarapan, dan menelan obat rutinnya. “Alhamdulillah,” gumamnya, seperti mantra kecil yang menenangkan.
Pagi itu ia harus bergegas ke SCBD. Jakarta lagi rewel—rute biasa macet parah, membuatnya harus zigzag mencari jalan alternatif. Tapi syukurnya meeting berjalan lancar dan Ami bisa kembali ke kantor tepat saat hujan mulai turun. Di meja kerjanya, ia memutar lagu Is You dari Ailee, ditemani langit mendung dan suara hujan yang mengetuk jendela. Atmosfer yang anehnya… menenangkan.
Beberapa hari terakhir hidupnya terasa seperti puzzle yang berpindah-pindah sendiri. Banyak yang berubah, banyak yang diuji, tapi juga banyak yang diam-diam Allah selipkan sebagai hadiah.
Yang paling berat mungkin tentang anak sulungnya—Aulia—yang akhirnya memutuskan berhenti kuliah setelah setahun berjuang. Ada hal-hal yang membuatnya tak bisa bertahan: sebagian dari dalam dirinya, sebagian lagi dari lingkungan kampus. Tapi Ami justru merasa lega. Ia bersyukur Aulia berani jujur, berani pulang, berani bilang kalau ia butuh ruang baru untuk mulai lagi.
Sekarang Aulia tinggal di rumah lagi. Lebih tenang rasanya, melihatnya tiap hari, memastikan makan dan istirahatnya, tanpa perlu khawatir karena ia jauh. “Kampus bisa dicari lagi,” pikir Ami. “Rezeki bisa digeser sama Allah kapan saja.” Lagipula, Ami sendiri dulu kuliah putus-sambung, baru tuntas setelah punya dua anak. Jadi ia tahu betul: jalan orang beda-beda, tapi kalau terus jalan, pasti sampai ke tempat yang terbaik.
Ujian fisiknya juga lagi maraton. Penyakit kulit yang ia derita sejak lama kembali flare-up. Lalu datang chikungunya yang menghantam tiba-tiba—demam menggigil, sendi-sendi terasa disilet, kulit perih sampai membuatnya menangis diam-diam. Ditambah sariawan besar di bibir dan vitamin yang tak kunjung membantu.
Tapi akhirnya badai itu lewat juga. Dengan kumur Aloclair yang pedas di awal tapi membawa lega di akhir, Ami mulai pulih sedikit demi sedikit. “Alhamdulillah,” lagi-lagi.
Bulan-bulan sebelumnya juga penuh kisah lain.
Ami mulai belajar golf sejak Mei—dua kali turun lapangan—dan pertama kali didampingi oleh Pak Singgih. Kini, setiap kali Ami menggenggam stik, ada rasa kosong. Pak Singgih wafat di September karena pneumonia. Ami hanya bisa mengirim doa, semoga beliau pergi dalam keadaan terbaik.
Di dunia kerja, kabar lain datang. satu klien perusahaan besar yang merupakan existing resmi pindah broker ke tempat lain. Rasanya pedih meski Ami sudah bisa menebak akhirnya. Untuk akun besar, politik sering lebih dominan daripada kinerja.
Ia juga pernah ikut tender kesehatan untuk salah satu bank syariah pada bulan Juni, tapi takdir berkata lain. Pengumuman tertunda karena pergantian direksi, dan kesempatan itu pun melayang.
Tapi Allah tetap sisipkan hadiah besar di tengah turbulensi: akhir Oktober, Ami resmi mendaftar haji. Ia menulis di jurnalnya: Ya Allah, semoga cepat sampai, tak perlu menunggu usia 75. Ada getar haru setiap kali ia mengingat momen itu.
Pekerjaan lain juga mengalir: pengajuan menjadi rekanan bank di Bandung, tapi tiba-tiba kabar duka datang—Direktur Utama bank tersebut wafat mendadak. Ami akhirnya memilih pasrah. “Kalau memang jodoh proyeknya, Allah pasti buka jalannya.”
Di unit kerja, sempat juga ada kejadian: kepala divisi resign. Namun Allah ganti dengan tim yang lebih solid dan mumpuni. Dan Ami kembali merasa dijaga.
Di rumah, suaminya—Irwan—baru pasang tiga ring pada Juli. Biaya perawatan tinggi, membuat mereka harus pinjam kantor dan mengurus klaim critical illness ke asuransi. Alhamdulillah sudah lunas, tinggal cicilan internal yang perlahan dibereskan. Doanya sederhana: semoga sehatnya terus dijaga dan hutangnya lekas selesai.
Ada juga kabar dari ibunya—Anin—yang akhirnya mendapat panggilan haji. Namun ia masih menunggu penilaian tim medis karena kondisi dementia-nya. Ami hanya bisa berharap semoga Allah bukakan peluang untuk ibunya berangkat, meski mungkin harus dengan pendamping.
Yang terakhir adalah Alkira, anak bungsunya, yang baru saja ulang tahun ke-16. Sudah besar, sudah mulai sibuk, tapi tetap jadi “bayi kecil” di mata Ami. Ia mendoakan Ammar panjang umur, sehat, dan tumbuh jadi pribadi yang baik, setulus namanya.
Menutup jurnal hari itu, Ami memandang jendela yang terus dibasahi hujan. Banyak hal ia alami dalam beberapa bulan. Banyak yang hilang, banyak yang digeser, banyak yang disembuhkan. Tapi satu hal tak pernah berubah: Allah selalu hadir dalam setiap celah.
“Semoga semua urusan dimudahkan,” tulisnya pelan. “Di dunia maupun di akhirat.”
Hujan masih jatuh lembut. Dan Ami kembali bersyukur, untuk hari yang sederhana namun penuh makna.
Komentar
Posting Komentar